Friday, April 27, 2007

KEPEMIMPINAN

KEPEMIMPINAN

09 Rab. Tsani 1428 H

27 April 2007 M

Prof. Dr. M. Quraish Shihab, M.A

24. Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar[1195]. dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.

[1195] Yang dimaksud dengan sabar ialah sabar dalam menegakkan kebenaran.

Kepemimpinan bukan keistimewaan, tetapi tanggung-jawab. Ia bukan fasilitas, tetapi pengorbanan. Ia juga bukan leha-leha, tetapi kerja keras. Ia juga bukan kesewenang-wenangan bertindak, tetapi kewenangan melayani. Selanjutnya, kepemimpinan adalah keteladanan berbuat dan kepeloporan bertindak.

Imam dan khalifah adalah dua istilah yang digunakan Al-Qur’an untuk menunjuk ”kepemimpinan”. Kata imam terambil dari kata amma-ya’ummu, yang berarti menuju, menumpu dan meneladani.

Kata khalifah berasal dari kata khalafa yang pada mulanya berarti ”di belakang”. Dari sini kata khalifah seringkali diartikan dengan ”pengganti”, karena yang menggantikan selalu berada di belakang atau datang sesudah, yang digantikan.

Kita dapat berkata, bahwa al-Qur’an menggunakan kedua istilah ini, untuk menggambarkan ciri seorang pemimpin. Sekali di depan menjadi panutan. Kali yang lain di belakang untuk mendorong, sekaligus mengikuti kehendak dan arah yang dituju oleh yang dipimpinnya atau tutwuri handayani.

Para pakar, setelah menelusuri Qur’an-Hadits, menetapkan empat sifat yang harus dipenuhi oleh para Nabi, yang pada hakekatnya adalah pemimpin ummatnya, yaitu:

1. Shidiq, yaitu kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap serta berjuang melaksanakan tugasnya.

2. Amanah atau kepercayaan, yang menjadikan ia memelihara sebaik-baiknya apa yang diserahkan kepadanya, baik dari Tuhan maupun dari orang-orang yang dipimpinnya, sehingga tercipta rasa aman bagi semua pihak.

3. Fathanah, yaitu kecerdasan yang melahirkan kemampuan menghadapi dan menanggulangi persoalan yang muncul seketika sekalipun.

4. Tabligh, yaitu penyampaian yang jujur dan bertanggungjawab, atau dapat diistilahkan dengan keterbukaan.

Dalam al-Baqarah: 124, diuraikan tentang pengangkatan Nabi Ibrahim sebagai pemimpin, ”Aku akan mengangkatmu sebagai imam/pemimpin.” Mendengar hal ini, Nabi Ibrahim bermohon agar kehormatan ini diperoleh pula oleh anak cucunya. Akan tetapi, Allah menggariskan suatu syarat, yaitu : ”Perjanjian-Ku ini tidak diperoleh orang-orang yang berlaku aniaya.” Ini mengisyaratkan, kalaupun anak cucu dapat dibenarkan mewarisi kekuasaan orang tuanya, pembenaran itu harus berdasar sifat-sifat terpuji yang intinya adalah keadilan.

Lima Sifat Pemimpin

Ada dua hal yang wajar digarisbawahi menyangkut ayat di atas.

  1. Kepemimpinan dalam pandangan al-Qur’an bukan sekedar kontrak sosial antara sang pemimpin terpilih dengan masyarakat pemilihnya, tetapi juga merupakan ikatan perjanjian antara dia dengan Allah s.w.t itulah yang kita sebut dengan amanah. Karena itu ketika sahabat Nabi, Abu Dzar, meminta suatu jabatan, Nabi s.a.w bersabda: ”Kamu lemah, dan ini adalah amanah sekaligus dapat menjadi sebab kenistaan dan penyesalan di hari kemudian.”
  2. Kepemimpinan menurut keadilan, karena keadilan adalah lawan dari penganiyayaan yang dijadikan syarat oleh ayat di atas. Keadilan tersebut dirasakan oleh semua pihak, baik kawan maupun lawan (2:126)

Dalam ayat lain yang berbicara tentang kepemimpinan yang baik, ditemukan lima sifat pokok yang hendaknya dimiliki oleh sang calon pemimpin. Kelima sifat itu terungkap dalam dua ayat, Qs. 32:34 dan 21:73, yaitu:

  1. Kesabaran dan ketabahan, ”Kami jadikan mereka pemimpin ketika mereka tabah/sabar”.
  2. Yahduwna bi amrina, mengantar (masyarakatnya) ke tujuan yang sesuai dengan petunjuk Kami (Allah & Rasul-Nya).
  3. Wa awhaina ilayhim fi’la’lkhairat, telah membudaya pada diri (sang calon) suatu kebajikan.
  4. ’Abidin, (senantiasa beribadah, termasuk sholat dan zakat).
  5. Yuwqinun, penuh keyakinan karena memiliki misi dan visi yang jelas.

Dari 5-sifat tersebut, as-shabr (ketekunan & ketabahan) dijadikan Allah sebagi konsideran pengangkatan mendahului sifat-sifat lain. Kesabaran adalah sifat dasar yang melekat, sedang yang lain adalah yang mereka peragakan dalam kenyataan.

Sifat ke-2 mengandung arti bahwa, seorang pemimpin minimal harus mampu menunjukkan jalan kebahagiaan dan pencerahan suasana terhadap ummat yang dipimpinnya melalui paket perubahan. Tidak sekedar menunjukkan atau melempar konsep, melainkan juga mesti memberi contoh sosialisasinya. Kepemimpinan sholat berjama’ah bisa dijadikan contoh nyata yang paling sederhana dan mudah dipahami bagi masalah ini.

Panduan Pemilihan

Dari sekian banyak ayat dan hadits, ditemukan teks yang mengandung panduan pemilihan dan pengangkatan pemimpin, sehingga antara pemimpin terpilih dan ummat pemilihnya, terikat kontrak sosial (sumpah jabatan). Menarik untuk diperbandingkan antara pengangkatan Nabi Adam diangkat dengan ungkapan lafadz tungal, Inniy jailun Fi’l-ardhi khalifah. (2:30). Sedang Nabi Dawud dalam bentuk jama’, Inna ja’alnaka khalifan fil-ardh.(38:26).

Ini menunjukkan bahwa pengangkatan Dawud ’Alayhissalam melibatkan dukungan pihak lain, selain tentunya dukungan Allah s.w.t. Berbeda dengan kasus Adam ’Alayhissalam, karena di zamannya belum ada komunitas masyarakat, sehingga pemilihan menjadi hak penuh Allah s.w.t. meskipun sebenarnya juga melalui sistem musyawarah langitan bersama yang mengikutsertakan para malaikat, termasuk jin dan iblis.

Ibnu ’Athiyah (1088-1148 M) mengatakan, syura termasuk prinsip syari’ah dan pilar hukum. Maka itu, pemimpin yang tidak mau melakukan syura, sah untuk dilengserkan. Karena ia diangkat berdasarkan syura, maka pelengserannya pun berada di tangan syura. Umar bin Khattab mengatakan: ”Siapa yang membai’at (mengangkat dan menyumpah) seorang pemimpin, tanpa didahului syura, maka tidak wajib bersumpah setia atasnya karena pengangkatannya tidak sah. Sebab khalifah adalah syura.”

Dari sini dapat dipahami sabda Nabi Muhammad s.a.w, ”sebagaimana keadaan kalian, demikian pula terangkat pimpinan kalian.” Karena pemimpin adalah cerminan masyarakatnya. Dan masyarakat yang baik, jelas akan memilih pemimpin yang baik. Sebagaimana makmum yang baik, akan memilih imam sholat yang terbaik, supaya menghasilkan makmum yang baik pula. Karena imam, sebenarnya adalah hasil kehendak orang banyak (makmum), bukan kehendak sekelompok makmum, apalagi tukang adzan atau pengurus masjid semata.

IBU KARTINI

IBU KARTINI

09 Rabi’uts Tsani 1428H

27 April 2007

M. Hidayatullah, SH.

Tanggal 21 April, sudah satu seperempat abad lebih atau tepatnya 128 tahun kita mengenang hari kelahiran tokoh besar perempuan Indonesia, yaitu Raden Adjeng Kartini. Tepatnya, 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah, keturunan bangsawan (priyayi) yang dikenal Raden Ayu Kartini.

Tinta sejarah belum lagi kering menulis namanya, namun wanita-wanita negeri ini sudah terbata-bata membaca cita-citanya. Hari Kartini kini kalah populer dengan hari Valentine, padahal Valentine adalah produk yang diadopsi dari luar. Apakah para wanita negeri ini sudah mulai melupakan sosok yang telah memperjuangkan martabat mereka? Tak ayal, kekerdilan dan kepicikan wanita negeri ini kini, kiranya bias dari sikap melupakan jasa para pahlawan. Pepatah mengatakan ”Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai perjuangan para pahlawannya”.

Ibu Kartini adalah sosok pejuang wanita sejati bersahaja. Paradigma perjuangan yang dibangunnya pun sangat sederhana, tidak terlalu teoritis dan ’wah’. Dia pun tidak pernah memperkenalkan istilah-istilah seperti emansipasi wanita, kesetaraan gender, dan bahkan mungkin ibu Kartini tidak mengenal istilah itu. Namun, kini cita-cita dan perjuangan ibu Kartini acap kali dijadikan kendaraan dengan istilah-istilah seperti emansipasi wanita, kesetaraan gender yang didefinisikan bahwa wanita harus keluar rumah berkarir menjadi pesaing para pria di berbagai lapangan kehidupan, untuk kemudian membiarkan anak-anak dan rumah tangganya terbengkalai. Gerakan liberalisme, pluralisme yang sangat erat dengan muatan-muatan kepentingan sepihak, kemudian dengan seenaknya mereka nisbatkan kepada ibu Kartini.

Melihat kepada prestasinya mendirikan sekolah untuk wanita di Jepara, mendirikan sekolah untuk wanita di Rembang. Kumpulan surat-surat: Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Sangat jelas, perjuangan yang diusungnya adalah meninggalkan martabat dan memajukan wanita bangsanya, dan itu tidak akan dapat dicapai melainkan lewat pendidikan yang layak. Untuk merealisasikan cita-citanya itu, dia mengawalinya dengan mendirikan sekolah untuk anak gadis di daerah kelahirannya, Jepara. Di sekolah tersebut diajarkan pelajaran menjahit, menyulam, memasak, dan sebagainya. Semuanya itu diberikannya tanpa memungut bayaran alias cuma-Cuma.

Bila melihat kiprah mayoritas wanita Indonesia kini, maka akan sangat jauh melenceng dari nilai-nilai yang diperjuangkan oleh ibu Kartini. Wanita Indonesia kini cenderung menjadikan dirinya sebagai aksesoris pria dan ’wanita penghibur’ karena alasan tuntutan kehidupan dan ekonomi.

Hanya saja formatnya dikemas sedemikian rupa, maka aktifitas ’menghibur’ itu dianggap wajar oleh masyarakat dan jika ada yang memprotesnya akan dihukumi sebagai orang yang telah menghambat demokrasi serta memasung kebebasan dan harus ditentang. Padahal aktifitas itu adalah bentuk dari eksploitasi dan merupakan media pembodohan wanita. Bisa jadi ibu Kartini akan menangis bila perjuangan yang diusungnya dulu menjelma menjadi seperti saat ini.

Semangat perjuangan ibu Kartini yang ingin memajukan kaumnya, mengingatkan kita dengan kehidupan jahiliyah orang-orang Quraisy Mekkah sebelum datangnya Islam.

Perempuan bukan hanya tidak mendapatkan pendidikan yang layak, lebih dari itu, memiliki anak perempuan adalah merupakan bencana dan aib bagi mereka. Sehingga seorang suami, jika mendapati istrinya melahirkan anak perempuan maka memerahlah wajah mereka, dan merekapun akan membunuh anak perempuan itu dengan menanamnya hidup-hidup. Firman Allah SWT,

58. Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan Dia sangat marah.

59. Ia Menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah Dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup) ?. ketahuilah, Alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. (QS. An-Nahl [16] : 58-59)

Sehingga Islam datang, kebiasaan dan keyakinan itu dhapus. Islam mengangkat derajat perempuan dan memberikan haknya sebagaimana mestinya sebagai makhluk Allah.

Realistis dan sesuai dengan fitrah manusia, ituah ungkapan yang tepat, bahwa jalan yang ditempuh oleh ibu Kartini untuk memajukan kaumnya adalah dengan memberikan pendidikan yang layak. Cukup dengan pendidikan, tanpa harus membentuk organisasi-organisasi perempuan, membuat perlombaan Putri Indonesia tapi namanya harum dan dinobatkan sebagai pejuang dan pahlawan nasional.

Hari jadi Kartini, harus dijadikan moment reaktualisasi semangat ibu Kartini dalam meningkatkan pendidikan wanita, bukan sekedar menyemarakkan jargon-jargon seperti emansipasi wanita atau kesetaraan gender, yang justru mengaburkan nilai perjuangan ibu Kartini.

Walladzikrullahi akbar

Friday, April 20, 2007

BANYAK-BANYAKAN HARTA

BANYAK-BANYAKAN HARTA

2 Rabi’uts Tsani 1428 H
20 April 2007
H. M Rahmatullah, Lc.

Beradu saling banyak-banyakan harta adalah salah satu sikap yang sangat berbahaya, bagaikan kanker yang akan terus menerus menggerogoti pelakunya. Suka berlomba-lomba dalam banyak harta ini pun merupakan salah satu dari penyakit hati, yang ujungnya akan melahirkan sikap dengki, sombong dan congkak. Beradu saling banyak-banyakan harta ini pun adalah jalan yang sangat mulus bagi setan untuk menjatuhkan manusia kepada kehinaan dan menjauh dari Allah. Mendorong manusia untuk terus menerus memiliki harta yang banyak adalah cara yang sangat efektif bagi setan agar manusia melakukan hal-hal yang dilarang Allah SWT. Dalam al-Quran Allah mengatakan bahwa melalui anak dan harta adalah cara yang paling ampuh bagi setan untuk menipu manusia,


(62). Dia (iblis) berkata: "Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil".
(63). Tuhan berfirman: "Pergilah, Barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, Maka Sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup.
(64). Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka[861]. (QS. Al-Isra’ [17]:62-54)

[861] Maksud ayat ini ialah Allah memberi kesempatan kepada iblis untuk menyesatkan manusia dengan segala kemampuan yang ada padanya. tetapi segala tipu daya syaitan itu tidak akan mampu menghadapi orang-orang yang benar-benar beriman.


Kenapa penyakit ini muncul ?


Penyebab terlahirnya sikap ingin memperbanyak harta dan saling berlomba-lomba dalam meraihnya adalah kebodohan, tidak mengenal hakikat kehidupan dan keberadaan di dunia sehingga karena kebodohan itu seseorang sangat luar biasa mencintai dunia. Menganggap hidup di dunia adalah akhir dari perjalanan hidup manusia, tidak ada lagi kehidupan sesudah kehidupan di dunia. Jika sudah seperti ini, maka pastilah dunia dan harta menjadi tujuan hidup, dan selama manusia lain tidak mengetahui cara yang ditempuhnya dalam mengumpulkan harta, maka dia akan tenang-tenang saja.

Apa penawarnya?

Agar terbebas dari penyakit ini maka obatnya adalah harus mengetahui dan sadar bahwa hidup di dunia in hanya sementara, paling lama 100 tahun dan itu sangat jarang sekali. Rasulullah pernah berkata, “Di dunia ini hanyalah seperti seorang pengembara yang sedang berteduh di bawah sebatang pohon, kemudian dia akan berlalu meninggalkan pohon itu”. Kemudian harus sadar bahwa jika seseorang telah meninggalkan dunia, harta yang dimilikinya tidak akan bisa dibawa kea lam selanjutnya dan tidak akan dapat digunakan untuk membeli atau diganti dengan barang lain guna mendapatkan fasilitas mewah seperti fasilitas yang dimilikinya di dunia. Karena alam dunia berbeda dengan alam sesudah kehidupan dunia. Untuk mmudahkan pengertian tentang hal ini, lihat peristiwa banjir yang baru lalu, mobil mewah seperti tidak ada harganya, terbenam air Lumpur. Rumah mewah pun harus ditinggalkan dan menginap di tempat penampungan dengan fasilitas seadanya, tidak ada kasur empuk, tidak ada ruang yang sejuk dan nyaman. Contoh lain, lihat para koruptor yang dihukum masuk penjara sekian tahun, seperti apapun megah dan besarnya rumah yang dimilikinya dari hasil korupsi itu, tidak dapat dinikmatinya, melainkan dia harus menetap di ruangan yang sempit, bukan hanya itu nama baik dan kehormatan pun tercemar. Demikian juga pedagang narkoba, para pelacur yang harus terasing dari manusia karena penyakit kotor yang dimilikinya, berapa pun uang dan harta yang telah dikumpulkannya hasil dari pekerjaan itu ternyata tak bisa memberikan kesembuhan dan memperbaiki nama baiknya.

Penutup

Memang benar harta sangat dibutuhkan di dunia ini, dan Islam memerintahkan kita untuk berusaha dan mencari rezeki guna memenuhi kebutuhan hidup, tapi jangan sampai menjadikan hidup sepenuhnya untuk mencari harta. Firman Allah SWT,

  1. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu[1598],
  2. Sampai kamu masuk ke dalam kubur.
  3. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),
  4. Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.
  5. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,
  6. Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,
  7. Dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin[1599].
  8. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (QS. At-Takaatsur [102]:1-8)

[1598] Maksudnya: Bermegah-megahan dalam soal banyak harta, anak, pengikut, kemuliaan, dan seumpamanya telah melalaikan kamu dari ketaatan.

[1599] 'ainul yaqin artinya melihat dengan mata kepala sendiri sehingga menimbulkan keyakinan yang kuat.


Waladzikrullahi akbar